Ditulis oleh : Danang Muharam & Ahmad Afwan Hofar

Bullying, kasus yang akhir-akhir ini sering di beritakan di berbagai media di Indonesia. Hal ini terjadi karena maraknya perilaku bullying yang terjadi di tengah lingkungan kita. Budaya bullying ini kerap meninggalkan tekanan mental bagi si korban bullying, bahkan terkadang ada bebarapa kasus bullying dengan kekerasan yang menyebabkan gangguan secara fisik.

Bullying merupakan suatu aksi atau serangkaian aksi negatif yang seringkali agresif dan manipulatif, dilakukan oleh satu atau lebih orang terhadap orang lain atau beberapa orang selama kurun waktu tertentu, bermuatan kekerasan, dan melibatkan ketidakseimbangan kekuatan. Pelaku biasanya mencuri-curi kesempatan dalam melakukan aksinya, dan bermaksud membuat orang lain merasa tidak nyaman/terganggu, sedangkan korban biasanya juga menyadari bahwa aksi ini akan berulang menimpanya.

Mengapa seorang korban kemudian bisa menerima, bahkan menyetujui perspektif pelaku yang pernah merugikannya dalam bentuk Bullying tersebut?

Korban biasanya merahasiakan bullying yang mereka derita karena takut pelaku akan semakin mengintensifkan bullying mereka (tindakan Bullying yang dilakukan terhadap korban akan semakin menjadi-jadi). Akibatnya, korban bisa semakin menyerap ’falsafah’ bullying yang didapat dari seniornya. korban mempunyai persepsi bahwa pelaku melakukan bullying karena :

Tradisi

  • Balas dendam karena dia dulu diperlakukan sama (menurut korban laki-laki)
  • Ingin menunjukkan kekuasaan
  • Marah karena korban tidak berperilaku dengan yang diharapkan
  • Iri hati (menurut korban perempuan)
  • mendapatkan kepuasan (menurut korban perempuan)
  • Apakah Bullying Melanggar Hukum?
  • Apabila kita melihat dari Perspektif Hukum, sudah sangatlah jelas bahwa Bullying melanggar Hukum dan terhadap tindakan Bullying dapat dikenakan Sanksi Pidana, didalam tabel berikut akan dijabarkan mengenai hukuman yang dapat dikenakan terhadap pelaku Bullying beserta Delik nya :
Bentuk Bullying Jenis Delik Aturan Hukum Terkait Ancaman Hukuman
Fisik Perampasan Kemerdekaan Pasal 333 KUHP 8-12 Tahun Penjara
Penganiayaan Pasal 351 KUHP 5 Tahun Penjara
Penyerangan Dengan Tenaga Bersama Terhadap Orang Atau Barang Pasal 170 KUHP 5-12 Tahun Penjara
Pemerasan Pasal 368 KUHP 9 Tahun Penjara
Menjual/Memberikan Minuman Memabukkan Pasal 300 KUHP 1-9 Tahun Penjara
Memaksa Orang Melakukan/Membiarkan Perbuatan Cabul Pasal 289 KUHP 9 Tahun Penjara
Verbal & Psikologis Pengancaman Pasal 369 KUHP 4 Tahun Penjara
Perbuatan Tidak Menyenangkan Pasal 335 KUHP 1 Tahun Penjara
Pengancaman Di Muka Umum Dilakukan Bersama Pasal 336 KUHP 2-5 Tahun Penjara

 

  • Terhadap ketentuan pidana diatas diatur didalam KUHP (Kitab Undang-Undang Hukum Pidana) yang dapat ditindak sewaktu-waktu ketika Bullying terjadi. Selain terhadap sanksi hukum  diatas yang dapat dikenakan terhadap pelaku Bullying, anak yang berada dalam bangku sekolah dilindungi secara khusus didalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak, yaitu :
  • Pasal 54
  • Anak di dalam dan di lingkungan sekolah wajib dilindungi dari tindakan kekerasan yang dilakukan oleh guru, pengelola sekolah atau teman-temannya di dalam sekolah yang bersangkutan, atau lembagapendidikan lainnya.
  • Dengan ketentuan pidana sebagai berikut :
  • Pasal 80
  • Setiap orang yang melakukan kekejaman, kekerasan atau ancaman kekerasan, atau penganiayaan terhadap anak, dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun 6 (enam) bulan dan/atau denda paling banyak Rp 72.000.000,00 (tujuh puluh dua juta rupiah).
  • Dalam hal anak sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) luka berat, maka pelaku dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 100.000.000,00 (seratus juta rupiah).
  • Dalam hal anak sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) mati, maka pelaku dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah).
  • Pidana ditambah sepertiga dari ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), ayat(2), dan ayat(3) apabila yang melakukan penganiayaan tersebut orang tuanya.

Berdasarkan penelitian Psychology of Popular Media Culture yang dilakukan oleh Douglas Gentile dan Brad Bushman mengungkapkan, ada enam faktor yang bisa menyebabkan anak menjadi seorang pengganggu atau melakukan bullying pada temannya. “Ketika semua faktor risiko ini dialami anak, maka risiko agresi dan perilaku bullying akan tinggi. 1-2 faktor risiko bukan masalah besar bagi anak, namun tetap butuh bantuan orang tua untuk mengatasinya,” ungkap Gentile.

  1. Kecenderungan permusuhan

Dalam hubungan keluarga maupun pertemanan, permusuhan seringkali tak bisa dihindari. Merasa dimusuhi akan membuat anak merasa dendam dan ingin membalasnya.

  1. Kurang perhatian

Rendahnya keterlibatan dan perhatian orang tua pada anak juga bisa menyebabkan anak suka mencari perhatian dan pujian dari orang lain. Salah satunya pujian pada kekuatan dan popularitas mereka di luar rumah.

  1. Gender sebagai laki-laki

Seringkali orang menilai bahwa menjadi seorang laki-laki harus kuat dan tak kalah saat berkelahi. Hal ini secara tak langsung menjadi imagekuat yan menempel pada anak laki-laki bahwa mereka harus mendapatkan pengakuan bahwa mereka lebih kuat dibanding teman laki-laki lainnya. Akhirnya perilaku ini membuat mereka lebih cenderung agresif secara fisik

  1. Riwayat korban kekerasan

Biasanya, anak yang pernah mengalami kekerasan khususnya dari orang tua lebih cenderung ‘balas dendam’ pada temannya di luar rumah.

  1. Riwayat berkelahi

Kadang berkelahi untuk membuktikan kekuatan bisa menjadikan seseorang ketagihan untuk tetap melakukannya. Bisa jadi karena mereka senang karena memperoleh pujian oleh banyak orang.

  1. Ekspos kekerasan dari media

Televisi, video game, dan film banyak menyuguhkan adegan kekerasan, atau perang. Meski seharusnya, orang tua melakukan pendampingan saat menonton atau bermain video game untuk anak di bawah umur, nyatanya banyak yang belum melakukan ini. Ekspos media terhadap adegan kekerasan ini sering menginspirasi anak untuk mencobanya dalam dunia nyata. “Sebaiknya dampingi dan beri pengertian pada anak saat menonton film beradegan kekerasan atau bermain video game perkelahian. Karena pengaruh media inilah yang 80 persen bisa membuat perilaku anak menjadi negatif dan terinspirasi untuk melakukannya,” sarannya.

Menurut Pusat Penyuluhan Hukum Badan Pembinaan Hukum Nasional Kementrian Hukum dan Ham R.I. terdapat beberapa langkah yang dapat dilakukan sebagai upaya pencegahan. Upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk tindakan bullying adalah sebagai berikut

  1. Jangan membawa barang-barang mahal atau uang berlebihan
  2. Menyadarkan anak-anak bahwa tindakan merampas, merusak atau menyandera barang milik orang lain adalah tindakan yang biasanya dilakukan pelaku bullying
  3. Jangan sendirian, pelaku bullying melihat anak yang menyendiri sebagai mangsa yang potensial
  4. Jangan cari gara-gara dengan pelaku bullying
  5. Jika anda tahu ada anak-anak tertentu yang tidak menyukai anda, sebisa mungkin hindari berada di dekat mereka
  6. Percaya diri, jangan perlihatkan diri anda seperti orang yang lemah atau ketakutan
  7. Berani melapor, harus berani melapor pada orang tua, guru, atau orang dewasa lain yang anda percaya
  8. Harus berani bertindak dan mencoba mengubah kondisi yang salah

Dari segi hukum pelaku bullying terhadap anak dapat dipidana berdasarkan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak sebagaimana yang telah diubah olehUndang-undang Nomor 35 tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Dalam undang-undang tersebut diatur bahwa setiap orang dilarang menempatkan, membiarkan, melakukan, menyuruh melakukan, atau turut serta melakukan kekerasan terhadap anak. Bagi yang melanggarnya akan dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun 6 (enam) bulan dan/atau denda paling banyak Rp72 Juta.

Bagaimanakah Pencegahan Terhadap Bullying?

Pada dasarnya Bullying pada institusi pendidikan dapat dicegah, hanya saja terhadap hal tersebut dibutuhkan kerja sama diantara para pihak, dalam hal ini terutama antara pihak keluarga batih dari pelajar serta pihak pengelola institusi pendidikan. Sedini mungkin setiap celah kecil dari dimungkinkannya tindakan Bullying terjadi harus dicegah, agar siklus Bullying yang dikhawatirkan akan berlangsung secara turun temurun tidak terjadi. Baik pihak keluarga maupun pihak pengelola institusi pendidikan harus sadar betul peran mereka dan secara total menjaga agar tindakan Bullying tidak terjadi, mengapa demikian? Dengan adanya pembiaran-pembiaran yang dianggap biasa oleh sebagian pihak (dianggap sebagai kenakalan remaja secara umum), maka pada akhirnya akan mengacu kepada “Legalisasi Bullying”.